Breaking News
Hustle Culture

Mengenal Hustle Culture, Ciri-ciri, Penyebab dan Bahayanya

Hustle Culture – Delapan atau mungkin dua belas jam di depan laptop, beralih tab untuk menghadiri rapat yang sama, tumpukan email yang belum dibaca dan masih berpikir Anda belum bekerja keras sepanjang hari?

Selamat datang di Hustle Culture! Apa sih Hustle Culture?

Pengertian Hustle Culture

Dalam bahasa Indonesia, kata “hustle” diartikan sebagai “semangat yang meluap”. Sedangkan Hustle Culture adalah budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja tanpa henti kapan saja, di mana saja.

Karir dianggap sebagai aspek terpenting dalam hidup yang diperoleh melalui kerja keras. Pengikut budaya kerumunan percaya bahwa apa yang dia lakukan tidak pernah cukup untuk mencapai kesuksesan.

Ciri-ciri Hustle Culture

Mereka yang terjebak dalam Hustle Culture disebut hustlers. Sekilas terdengar keren, meski sebenarnya mengganggu. Mengapa demikian? Hustlers selalu termotivasi untuk meraih kesuksesan di usia muda.

Selain itu, mereka sering bekerja keras hingga larut malam, mengambil pekerjaan paruh waktu dan mengabaikan waktu istirahat mereka.

Ciri utama dari hustler adalah merasa bersalah ketika waktunya diisi dengan penyegaran atau ketenangan. Semua yang mereka lakukan harus berhubungan dengan pekerjaan. Semakin banyak Anda bekerja, semakin dekat Anda untuk mewujudkan ambisi Anda.

Hustlers mengklaim sebagai kelompok orang yang produktif. Namun, keduanya jelas berbeda. Produktivitas didefinisikan sebagai cara untuk menghasilkan output berkualitas tinggi dalam waktu singkat sementara hustlers mencoba bekerja untuk waktu yang lama, tidak memperhatikan kualitas output yang dicapai.

Budaya ini juga berdampak pada berkurangnya kreativitas individu. Menurut dr. Jeanne Hoffman, psikolog di UW Medicine, bekerja lebih dari 50 jam seminggu melumpuhkan produktivitas dan inovasi seseorang.

Akhirnya, hustlers tidak mau ketinggalan. Mereka selalu belajar, bekerja dan mengorbankan segalanya untuk mencapai puncak. Terlepas dari niat baik, Hustle Culture membuat orang tidak lagi peduli dengan kesehatan fisik dan mental mereka.

Duh, saya harap Anda bukan salah satu hustlers, ya…

Baca Juga: Tips Kelola Dana Pensiun

Penyebab Hustle Culture

Hustle Culture tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya adat/budaya ini. Hmm… apa penyebabnya?

1. Teknologi

Kemajuan teknologi telah memungkinkan Hustle Culture menyebar dengan cepat. Smartphone Anda tidak hanya berfungsi untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk bekerja. Mengirim email, menyusun presentasi, panggilan video dengan eksekutif dan melakukan diskusi antar tim dapat dilakukan di aplikasi yang tersedia di ponsel.

Tanpa disadari, deretan aplikasi telah membuat seseorang bekerja sepanjang waktu. Kemudahan mengatur urusan kantor berubah menjadi perasaan takut, cemas dan mendorong individu untuk bekerja sepanjang waktu.

2. Konstruksi Sosial

Jabatan dan keuangan telah menjadi ukuran kesuksesan dalam hidup. Semakin melejit karier seseorang, otomatis hidupnya akan semakin kokoh. Membeli aset di usia muda menjadi tolak ukur bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk Anda sendiri.

Akibatnya, Anda termotivasi untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin sehingga Anda dapat membeli rumah, mobil, atau sekadar meningkatkan taraf hidup Anda. Meskipun niatnya baik, ini tidak selalu benar. Budaya “hustle” memaksa seseorang untuk bekerja keras untuk mendapatkan predikat sukses dari lingkungan.

3. Toxic Positivity

Menurut dr. Psikolog klinis Pennsylvania Jaime Zuckerman mengatakan bahwa toxic positivity adalah dorongan untuk tetap positif, bahkan ketika Anda berada dalam situasi stres. Anggapan ini berasal dari hati atau perkataan orang-orang di sekitar Anda.

Seringkali kita merasa lelah dengan pekerjaan yang menumpuk. Alih-alih berhenti, kalimat seperti:

“Jangan menyerah, kamu pasti bisa. Ayo kembali bekerja!”

“Masa gitu aja capek? Kapan suksesnya?”

Atau kutipan pada gambar di bawah ini

Toxic positivity

Toxic positivity tumbuh selama pandemi COVID-19. Kondisi ekonomi yang memburuk mendorong masyarakat untuk bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami stres, namun enggan mengungkapkan emosinya. Kepositifan beracun memaksa orang untuk tetap kuat, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Pada akhirnya, kesehatan mental diabaikan.

Dampak dari Hustle Culture

Setidaknya ada 4 (empat) efek bagi seseorang yang terjebak dalam Hustle Culture. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Kehilangan Work Life Balance

Work Life Balance adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Menghabiskan waktu bersama keluarga, pasangan atau teman dapat mengurangi tingkat stres akibat pekerjaan. Sosialisasi mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Menurut inc.com, kebahagiaan dapat meningkatkan kreativitas dan menghasilkan energi positif.

Sebaliknya, obsesi kerja yang berlebihan mengakibatkan penurunan aktivitas sosial. Dari pagi hingga pagi, hidup Anda selalu berkutat dengan deadline. Tidak ada yang bisa diajak bicara untuk berbagi keluhannya saat dia tenggelam dalam tumpukan pekerjaan.

2. Burnout Syndrome

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout adalah gangguan stres kronis terkait pekerjaan yang ditandai dengan kelelahan, frustrasi, dan kesulitan berkonsentrasi. Gejala burnout tidak muncul dalam semalam, tetapi dialami secara bertahap. Burnout disebabkan oleh banyak tanggung jawab, lingkungan kantor yang buruk dan hilangnya dukungan sosial.

3. Kurang Bersyukur

Salah satu ciri hustlers adalah tidak mau ketinggalan dengan pencapaian orang lain. Sebisa mungkin di posisi yang sama. Karir dan keuangan adalah 2 hal yang selalu mereka kejar. Alih-alih mensyukuri apa yang ada saat ini, Anda terus mencari dunia.

Dengan etos kerja yang menggebu-gebu, hustlers mudah iri dengan kesuksesan orang lain. Hal ini sebenarnya bagus karena mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang selalu berkembang. Namun, scammer tidak akan berhenti sampai dia menjadi orang yang paling sukses.

4. Menyusahkan Rekan Kerja

“Kenapa kamu tidak menjawab teleponku tadi malam?” kata seorang manajer suatu pagi. Sebenarnya tadi malam berarti jam 2 pagi ketika Anda tertidur karena terlalu banyak bekerja. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti ini? Mari kita mengatur napas..

Manajer di kantor Anda mungkin penipu. Pengikut budaya ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga rekan satu timnya. Mereka memaksa orang lain untuk bekerja dengan intensitas tinggi. Seringkali scammer memberikan pekerjaan kepada rekan-rekannya saat istirahat atau hari libur.

Itulah pembahasan singkat tentang Hustle Culture. Apakah Anda termasuk orang yang memenuhi kriteria di atas? Tidak perlu berlebihan dalam mengejar ambisi, sesuaikan dengan porsi kemampuan sendiri.

Jika Anda mencari kelas hard skill dan soft skill, Anda bisa mencoba kelas pelatihan Learning ala JobSter. semua artikelnya mudah dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published.